Atheis - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, May 8, 2019

Atheis

Konsep itu entah muncul tahun berapa, tapi yang pasti itu keluar dari seseorang yang sangat kesepian. Mengapa?

Setidaknya ada tiga definisi atheis. Yang pertama, mereka yang mengaku (meyakini) Tuhan itu tidak ada. Ini yang paling absurd. Kedua, mereka yang bertuhan tapi menolak beragama (kaum gnostik/agnostik), karena kekecewaan yang sangat dalam pada para pemeluk agama, dan logika yang belum sampai tentang ketuhanan. Ketiga, adalah mereka yang dalam pencarian, meragukan konsep Tuhan yang keluar dari para pemuka agama. Kita kupas satu-satu.

Sebelum dilanjut, apakah aku pernah atheis dengan perjalanan intelektual yang aku alami? Alhamdulillah  tidak sampai, hanya berdebat dengan 'diri' yang teranggap Tuhan, seperti Ibrahim dalam perenungan teologisnya pada bulan, bintang, matahari, dan akhirnya sampai pada sang pencipta yang tak terdefinisikan. Lebih seperti 'kemesraan' seorang pecinta pada kekasihnya, tak sampai ke keputusasaan pada Tuhan.

Pertama atheis yang mengaku tidak percaya Tuhan. Ini dilematis. Kata 'mengaku', jika dinaikan derajatnya akan jatuh pada 'meyakini', sedangkan orang yang menyandarkan diri  hanya pada logika rasional dan empirisme, tak boleh jatuh pada kata 'yakin', termasuk meyakini tidak adanya Tuhan. Karena logika itu terbatas pada bukti, sedang yang gaib, itu dengan atau tanpa melihat (bukti), kita tetap harus meyakininya.

Tentang konsep tuhan sendiri setidaknya ada tiga tahapan. Pertama, Tuhan yang 'bergerak' Atau berubah. Memberi kemudahan pada mereka yang taat, dan marah lalu memberi hukuman pada mereka yang jahat. Tuhan berupa bayangan raksasa di atas langis yang mengawasi manusia.

Tahap kedua, Tuhan yang meliputi Segala sesuatu (prinsip imanensi) dan melampaui segala sesuatu (transenden). Dari ini sebagian orang berkata 'Tuhan ada dimana-mana'. Bahasa orang jawa (diindonesiakan), jauh tak terukur, dekat tak tersentuh. Fa ainama tuwalu fatsama wajhuwllah. Kemanapun engkau menghadap disanalah wajah Allah.

Yang ketiga, bahwa tidak ada yang ada selain Allah. Ini pembahasannya agak lebih rumit. Semisal berpijak pada ayat 'wa nahnu aqrobu min hablil waridz' Aku (disana pakai 'nahnu', menyebut 'Aku' dengan rasa bangga/besar) lebih dekat bahkan dari urat lehermu. Atau ayat 'anni fa inni qoriiyb'.

Pemahaman yang ketiga adalah 'pembelaan langsung' dari Allah bahwa, seakan Tuhan berkata, "Jangan putus asa mencari-Ku, karena Aku juga mencarimu. Kita terhijab kebodohan dan dosa,"

Ketika seseorang mengaku dirinya atheis dalam kategori kedua dan ketiga, mereka sebenarnya telah setengah beriman. Lho kok bisa? Orang-orang atheis seperti itu seakan sudah sampai pada kalimat toyibah 'la ilah' (ini adalah setengah syahadat pertama), tidak ada Tuhan. Dan hanya perlu berjalan sedikit lagi untuk sampai pada 'illa allah'.

Aku sendiri dulu waktu kuliah punya teman-teman yang mengaku dirinya atheis. Tapi, setelah diskusi yang cukup lama dan intens, dengan tetap menganggapku lebih gila daripada mereka (dalam memahami konsep ketuhanan), di satu episode mereka justru tiba-tiba mengajakku ibadah. Di satu hari ramadan, tiba-tiba dia sms mengajak tarawih berjamaah. Betapa haru. Kemarin-kemarin dia menyumpahi para ustadz dengan ucapan-ucapan hewani, sekarang dia mengajak beribadah.

Lagipula, bukankah hidayah itu hak Allah? Kita, hanya menemani, memberi kabar menggembirakan (basyiro) dan peringatan (nadziro) yang tak boleh merasa kita-lah 'staf' Tuhan, orang paling dekat pada Tuhan, dsb. Bagiku sendiri, tersesat atau berada dalam jalan kebenaran, kita akan sampai (kembali) pada Tuhan.

Ketika kita bertanya pada-Nya dalam kordinat kesunyian kita masing-masing, "Tuhan, dengan apalagi aku dapat menemukan-Mu?"

Dia menjawab (salah satunya), "Harus berapa doa lagikah Ku kabulkan, agar engkau percaya bahwa Aku ini ada, wahai hamba-Ku?"

Dan itu seperti sepasang kekasih yang saling rindu.

Dzahaba dzoma'u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

Selamat berbuka puasa.

Bandung, Rabu 8 Mei 2019

No comments:

Post a Comment