Fiqh prioritas dan makna adil - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, May 18, 2019

Fiqh prioritas dan makna adil

Darul mafashid muqadamun jalbil masholih. Kaidah fiqh memberikan semacam dispensasi, ketika kita dihadapkan pada dua pilihan yang serba sulit, dua-duanya merugikan, atau sebaliknya, dua-duanya baik, pilihlah yang paling kecil resikonya. Ambillah yang paling sedikit kerugiaannya.

Dasar ini selalu saya pakai. Semisal ketika dulu ada siswa yang ingin masuk kelas 6, sedang rapotnya kelas 5 (kita tahu siapa anaknya). Orang cenderung sulit memastikan, saya ini orang yang terlampau polos, bodoh, atau memiliki cara pikir yang melampaui banyak orang pada umumnya. Satu di antara banyak prinsip yang saya miliki (tentu saja itu bisa berubah), saya tidak akan membicarakan hal-hal yang orang lain kurang senang dengan itu. Saya mengimbangi.

Hal mendasar yang harus kita pahami dalam mengambil keputusan adalah (apalagi kita sebagai guru, pendidik), pertimbangkanlah matang-matang dengan kedewasaan berpikir yang kita punya. Ini, namanya 'fiqh prioritas'. Mana yang harus kita dahulukan, mana yang bisa ditunda, dan mana yang bisa sambil jalan diselesaikan.

Karena jangan sampai, kita tak adil bahkan dari pikiran. Yang seharusnya kita berpikir, malah menggunakan rasa. Yang seharusnya pakai rasa, malah menggunakan nafsu/emosi. Karena adil itu bukan setara - mitslu, bukan seimbang - mizan, tapi adil adalah menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya. Menempatkan sesuatu sesuai porsi/kapasitasnya. Misalnya, kita seharusnya berpikir matang-matang untuk pembelajaran kelas esok hari, tapi malah menggunakan ilmu rasa : rasanya saya bisa dadakan. Padahal, nasihat jawa juga bilang : ojo rumongso iso, ning iso rumongso. Jangan pernah merasa bisa, tapi jadilah orang yang bisa merasakan, peka, peduli. Contoh lagi, yang seharusnya pakai rasa, semisal tentang susahnya kita untuk menyesuaikan jadwal kerja.

Ketika saya sebagai kepala sekolah yang seharusnya mampu merasakan betapa susahnya jadi guru punya anak kecil dan belum mapan, atau beratnya tugas tambahan di malam hari, lalu saya buru-buru (emosi) mudah mengeluarkan surat peringatan (SP), maka saya sudah tak adil. Saya dholim. Dan kedholiman (kekejaman) dekat dengan penderitaan. Maka saya berikan pilihan, seperti yang kemarin saya sampaikan.

Maka, mari kita terus membuka pikiran. Kita guru, kita pendidik. Jika anak kita minta belajar, maka mengapa kita justru menutup pikiran? Teruslah memperbaiki diri.

Dzahaba dzoma'u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

Selamat berbuka puasa.

Rabu, 15 Mei 2019

No comments:

Post a Comment