Hati-hati si aduwwum mubin - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, May 11, 2019

Hati-hati si aduwwum mubin

Menulis itu mendiagnosa diri. Menggambar, seperti apa keadaan seseorang tersebut ketika menuliskan kisah atau sampah pikirannya, dulu. Diagnosa ini kelak dapat digunakan untuk refleksi, bercermin, melihat 'spion' masa lalu, betapa diri ini lebih sering menganggap sempurna daripada memiliki banyak kelemahan.

Maka 'orang-orang besar' yang telah menggoreskan sejarahnya adalah para 'dewa', bukan untuk disembah, melainkan keabadian karyanya dapat dijadikan pijakan manusia-manusia setelahnya agar hidup lebih baik : idealnya. Kata Quran, innaka mayitun, wa innahum mayyitun. Kamu akan mati, demikianpun orang-orang yang membencimu. Dan kita akan sama-sama diadili seadil-adilnya.

Tuhan telah memberi 'kode keras' tentang siapa sebenarnya musuh manusia. Dia si 'adduwwum mubin' si musuh yg 'nyata'. Kalau kita belajar filsafat dasar, 'nyata' itu diartikan kekal, tidak berubah, begitu terus dari dulu dan nanti, jelas ada, dsb. Musuh kita punya banyak jurus. Iblis punya jurus 'ghurur', menipu/tipuan, yang ketika ia melakukan itu disebut talbis. Yang dilakukan Dajjal mengubah api menjadi air dalam pengibaratan hadits nabi adalah ghurur, jurus buyutnya ketika menipu adam di jannah. Dia hanya melakukan rekayasa pandangan mata atau indera. Sedangkan yang dilakukan Isa as adalah meminta izin Tuhan agar para malaikat mematuhinya. Mengubah benda secara wujud. Itu kenapa Dajjal tak akan menang melawannya.

Jurus setan adalah petak umpet. Dia akan menyergap kita dari arah yang kita tak tahu kapan dan dimana mereka akan datang. Sang nabi mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Sedangkan setan, mendorong-dorong, memaksa manusia dari cahaya ke kegelapan, kegaiban, wilayah allah, wilayah yang manusia sebenarnya sama sekali tak mengetahuinya.

Maka mengapa kita menghabiskan waktu kita untuk bermain dalam lingkaran setan?Membicarakan hal-hal yang tak benar-benar kita tahu kebenarannya, memaksakan pengetahuan kita pada orang lain, sampai di antara kita terluka, lalu setan berhasil menanamkan benih-benih kebencian dan dendam.

Innaladzinat taqow idza massahum thoifun... Ilaa akhirihi (al a'rof : 201). Orang-orang yang belajar untuk selalu waspada (dari setan) adalah mereka yang ketika dalam hatinya terasa 'panas' (benci, marah, menyesal, kecewa, dsb) karena yuwaswisu dari setan, mereka segera mengingat Tuhan, lalu ingatan masa lalu baik yang ditulis ataupun tidak, mendadak terbayang dalam ingatannya.

Dzahaba dzoma'u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

Selamat berbuka puasa.

Tegal, Sabtu 11 Mei 2019

No comments:

Post a Comment