Jangan pelajari sejarah (!) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, May 7, 2019

Jangan pelajari sejarah (!)

10 Desember 2014 pukul 19.10

Belajar sejarah itu hanya untuk para (calon) pemimpin masa depan. Pertanyaannya, apa tujuan hidupmu? Jika jadi pekerja, buruh, 'tukang-tukang' dengan ijasah tinggi, maka jangan pernah pelajari sejarah._Jon Q_

Sekolah mulai ramai didirikan di Indonesia sekitar tahun 1900-an. Banyaknya tokoh pemikir Belanda yg sakit hati pada negerinya sendiri, membuat mereka 'melawan', menolong rakyat bumiputera (kenapa disebut bumiputera? Di lain kesempatan akan dibahas). Bahkan, Bhrosoof, salah satu pemikir itu, pulang ke negerinya membawa kekecewaan dan keputusasaan yg dalam, karena melihat kekejian negerinya sendiri. Sebelum 'mudik', ia menulis esai di media De Locomotif Semarang dengan judul 'Pamitan dengan orang sakit'.

Ada yg namanya Volkschool, 'Volk' berarti rakyat, school berarti sekolah, setingkat SD. Lama belajar 3 tahun. Ada yg namanya Vervolg school, setingkat SMP. Politik etis saat itu, saat belum diselewengkan, berjalan benar. Guru diambil dari orang sendiri, pribumi. Tidak ada diskriminasi. Yg penting, selama pajak dan rodi (wajib kerja Belanda) dilakukan, sekolah tetap berjalan. Ada juga teknik pengairan/irigasi, ini untuk para petani pribumi. Ada juga emigrasi, bahkan sampai ke Suriname (mengapa sampai ke Suriname, Amerika Selatan? Ditulisan lain dibahas). Pendidikan saat itu sejaman dengan perjuangan Kartini. Pendidikan saat itu sederhana, bahkan para penggembala kambing/sapi tetap bisa belajar dengan gembalaannya yg merumput di tanah samping sekolah mereka. Tanah persawahan, gaji untuk para guru pribumi.
**
Sejarah sebaiknya bukan cuma menghafal kronologi/jalan ceritanya. Lebih penting dari itu adalah pesan/kebijaksanaan yg bisa diambil. Pendidikan yg kita pakai sekarang adalah warisan Jepang - jaman 'purba'. Mengingat Jepang sudah tak memakainya lagi. Tapi, kurikulumnya masih 'berbau' Belanda, setelah politik etis di selewengkan. Mengejar nilai, ijasah, lalu jadi PNS. Jika jaman itu PNS adalah pegawai rendahan, jaman ini dianggap sebagai 'tahap aman hidup'.

No comments:

Post a Comment