Kisah dua ustadz muda - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, May 1, 2019

Kisah dua ustadz muda

Rabu, 1 Mei 2019, ba'da ashr


Dua ustadz muda baru saja diberikan ijasah oleh kyai yang sama. Mereka diutus untuk mendidik, menyampaikan apa yang dipelajarinya selama ini di pesantren, pada masyarakat. Abid dan Sholeh, namanya. Abid di desa tepi sungai, Sholeh di desa pesisir, yang dua desa itu hanya dipisahkan oleh satu sungai besar. Dua ustadz muda ini sama-sama ahli sabar, ahli syukur, dan seumur hidup diajari kyainya untuk menerima takdir Tuhan dengan rasa gembira dan hati yang tenang. Mereka hampir-hampir sulit dibedakan dalam hal kapasitas keilmuan dan amalan hatinya.

Dalam perjalanan dakwahnya, mereka saling bertemu dan bertukar pemahaman dan pengalaman baru satu atau dua kali dalam sebulan. Mereka tak ingin apa yang disampaikan pada orang-orang bukanlah yang diajarkan kyainya, atau bahkan melenceng dari quran dan sunnah. Mereka tak mau menyampaikan atau berbicara karena keinginan, atau syahwat ingin didengar atau ditaati banyak orang. Hati mereka cenderung bersih.

Tapi ada yang aneh di antara mereka. Doa-doa pribadi Abid, lebih cepat dan mudah dikabulkan oleh Tuhan daripada doa-doa Sholeh. Mereka sama-sama berdoa agar diberikan pasangan hidup. Abid, dua bulan berdakwah sudah ditawari gadis desa. Sholeh, hanya ikut bergembira dan datang ke undangan pernikahan Abid. Tapi Sholeh dalam hatinya biasa saja, tidak iri, atau bahkan protes pada Tuhannya.

Abid berdoa agar diberikan ladang, agar di pagi hari ia bisa beraktifitas seperti masyarakat lain. Dua minggu setelah berdoa, dia sudah diberikan waqaf ladang untuk kemaslahatan mushola dan madrasahnya. Sholeh, dia masih saja serabutan. Kadang jadi kuli bangunan, kadang juga ikut bertani di sawah orang. Dan doa-doa lain yang dikabulkan seakan berbeda di antara mereka berdua.

Dalam tafakur-tafakur malamnya, Sholeh seringkali 'bermesraan' dengan Tuhannya dalam doa. Bukan tentang kemalangan hidupnya, melainkan fenomena di masyarakat yang nampaknya tak adil, seperti kisahnya dan sahabatnya - Abid.

"Apa yang menjadikan hidup seseorang lancar-lancar saja, sedangkan menurut kita ada orang-orang yang sedang sangat membutuhkan tapi Tuhan memilih menahan rezeki-Nya?" tanya Sholeh dalam tafakurnya.

"Jika ada dua orang kelaparan, yang satu segera oleh Tuhan diberikan makan, tapi mengapa yang lain diminta untuk sabar?"

"Apakah hidup ini memang random, tidak ada yang dikasihi Tuhan, hanya bergantian dalam derita dan kesenangan? Lalu yang bergembira sebaiknya bersyukur, dan yang sengsara seharusnya bersabar, berputar bergilir hanya seperti itukah hidup ini?"

"Apa yang menjadikan Tuhan seakan sangat pengasih pada seseorang yang menyembah-Nya, tapi menahan rezeki-Nya pada seseorang lain yang sama-sama khusyu menyembah-Nya?"

"Jika itu adalah hak Tuhan, kehendak-Nya pada siapa saja Dia akan memberi, lalu untuk apa kesabaran-kesabarannya? Bukankah ia juga memiliki kebutuhan-kebutuhan yang sama?"

"Bukankah urusan lapar, urusan 'telinga' (sama-sama merasa kecil ketika 'direrasan' orang) itu sama? Mengapa seseorang dimudahkan, dan yang lain seakan sulit sekali?"

"Apakah Tuhan berpikir seperti manusia, untuk menguji kebergantungannya hanya pada-Nya? Lalu bagaimana jika Dia menyerah, memilih untuk menduakan-Nya karena merasa kesabarannya dibiarkan saja oleh-Nya?"

Apakah Tuhan sebercanda itu pada manusia?

No comments:

Post a Comment