Ramadan bulan dagangan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, May 14, 2019

Ramadan bulan dagangan

Hanya di bulan ramadan, kita bisa menikmati wisata kuliner nyaris dimana saja. Terutama menjelang maghrib, dimulai sejak selepas ashr. Puasa yang ditujukan untuk belajar 'prihatin', ngerem, mengendalikan, justru selepas maghrib seperti biasa kita melampiaskan rasa lapar kita terhadap segala apapun itu. Puasa yang bertujuan mengubah manusia dari 'ulat' menjadi 'kupu-kupu', justru sebaliknya, ketika sang ulat masuk ke dalam kepompong dan berpuasa, ia kemudian keluar tetap dalam wujud ulat. Puasa sekedar 'ngadem', formalitas, tak ada yang spesial.

Jika umat muslim dibukakan hijabnya dari konstelasi bintang semesta di saat ramadan, lalu mereka tahu betapa spesial dan 'wow' (obral besar-besaran dari Tuhan), maka mereka akan berharap kalau 12 bulan dalam setahun itu adalah Ramadan. Tak percaya? Tanyalah para penjual kolak di sepanjang jalan yang kita lalui.

Ramadan bulan 'ijab-kabul' antara seorang hamba dengan Tuhannya. Puasa mengarahkan manusia untuk tak membawa apa-apa, tak memiliki apa-apa bahkan sebatas rasa kenyang atau puas dengan wadag-wadag materi. Lalu dengan itu Dia akan membeli kita, dengan keridhoan-Nya, dengan mardliyatan rodliyah, saling ridho. Karena bahkan di surga pun ketika para penghuninya ditanya apa yang mereka inginkan lagi, mereka menjawab : ridho-Mu, Tuhanku. Namun sekedar doa keridloan saat kita kecil pun kita lupa. Rodlitubillahi robba, wa bil islamidiyna, wa bi muhammadin nabiya wa rasula. Dengan ridlo-Mu, Tuhanku, dengan Islam dan Muhammad sebagai nabi juga rasul-Mu.

Logika ini tak bisa dipahami manusia-manusia materialis. Bahwa bahkan untuk menjual diri pada Tuhan, kita diminta berlelah-lelah ibadah, menjaga jarak dari dunia, dari rasa ingin, menjadi diri yang 'meruhani'. Apa enaknya menjadi 'barang hak milik Tuhan'? Jika ada yang menggores sedikit saja bodi motor/mobilmu, apa yang akan kamu lakukan? Tapi, mungkin manusia jaman ini telah mampu mandiri hidupnya, bahkan berdaulat dari Tuhannya. Menganggap segala yang terjadi dalam hidupnya hanya fenomena keseharian. Tidak ada yang istimewa, tidak ada sesuatu yang berkuasa di luar pikiran kita, Tuhan tak ada di sini, karena rumah-Nya di masjid dan musholla.

Mudah-mudahan kita menjadi hamba-hamba yang mendapat petunjuk. Ihdinashirot al mustaqom.

Dzahaba dzoma'u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

Selamat berbuka puasa.

Tegal, Senin 13 Mei 2019

No comments:

Post a Comment