Wilayah energi : kenapa orang baik bernasib buruk? - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, May 10, 2019

Wilayah energi : kenapa orang baik bernasib buruk?


Kita akan kupas baik buruk lagi.

Pertanyaan ini, karena mungkin benar kata orang aku ini orang baperan, terpikirkan dari remaja. Bukan baper karena nasib sendiri, seorang pengarang (derajat penulis itu terlalu mulia untukku) harus pandai mengamati, mencermati, titen, terhadap lingkungan. Pertanyaan "mengapa orang baik seringkali bernasib buruk atau bahkan berumur pendek?" tak pernah sampai pada jawaban titik awal kepuasan, sekalipun keluar dari lisan 'ulama'.

Karena allah sayang, karena dia disediakan surga di akhirat lebih tinggi, karena mereka lebih kuat (lebih kuat kok ya mati muda?), karena orang baik itu disakiti seperti apapun akan tetap baik, dsb, yang belum memuaskan pikiran sekalipun di titik awalnya saja.

Mengapa terjadi peperangan jika Tuhan maha kuasa untuk memberi kedamaian, mengapa si kaya tak menyantuni dan mendidik si miskin, mengapa si kuat mempermainkan si lemah, bukankah Tuhan ada dan berkuasa untuk semua itu?

Ketika logika kita paksa untuk masuk ke wilayah hati/rasa, ia hancur. Manusia sebaiknya menyadari, banyak hal yang tak bisa pikiran tampung, pikiran olah. Bahwa ada bagian-bagian lain yang melengkapi logika, akal manusia. Dan tentang paradoks di atas tak bisa diolah oleh logika lateral. Sebelum dilanjut, logika 'hitam-putih' ditenarkan oleh Newton, dan ini yang menjebak manusia. Bukan berarti buruk, kita hanya tak adil saja memahaminya. Menjebak karena ada logika einstenian (kita pakai bahasa barat, karena di jawa lebih 'sederhana'). Misal, pakai logika lateral, benda kotak ya kotak, diam ya diam, cair ya cair. Tapi logika siklikal, apalagi kuantum, tidak begitu. Ada kotak tapi bundar, ada diam tapi bergerak, ada cairan tapi kering, dsb.

Itu hanya sisi kecil tentang logika dasar. Sedangkan pertanyaan paradoksal di atas, kita sebaiknya menggunakan potensi diri manusia secara utuh. Kenapa orang baik bernasib buruk? Apa ukuran 'orang baik'? Dan apa ukuran nasib buruk? Nabi Yunus, Ayub, mereka nabi, apakah mereka orang jahat sehingga ditelan ikan dan didera sakit menahun adalah layak? Apakah itu nasib buruk?

Akal hancur memikirkan ini jika ia 'berjalan' sendiri. Ia harus bergandengan tangan dengan hati (yang tenang), dan keimanan (segala sesuatu yang tak selalu mampu dibuktikan langsung).

Pertanyaan itu membawaku pada asumsi, ada semacam 'wilayah energi' dalam diri manusia. Tabungan energi baik dan buruk, taat dan membangkang, iman dan kafir (menolak kebenaran), dsb. Dan (ini hanya asumsi) Tuhan mengatur alam semesta manusia dengan itu, malaikat di wilayah keimanan.

Akan sangat jelas ketika Allah berkata : Jika Aku menghendaki, semua manusia akan dijadikan satu umat (beriman). La, mengapa tidak? Jika Tuhan 'ja-iz' begitu, maka Dia melanggar ucapannya sendiri, bahwa manusia diberikan pilihan. Fa alhamaha fujuroha wa taqwaha. Ada 'surga' dan 'neraka' di dekat kita, saat ini, disini.

Wilayah energi inilah jembatan antara logika dan keimanan, menurutku. Tidak ada pengecualian di dalamnya, nabi atau manusia biasa. Tidak secara otomatis seseorang ditimpa musibah karena keburukan yang ia kerjakan, sebab musibah itu akan menambah jumlah energi kebaikan di wilayah energi jika seseorang itu sabar (hadits rasul : sungguh beruntung orang-orang mukmin, dst).

Kenapa palestina tak henti-hentinya diserang dan dunia seakan diam saja? Dari konteks wilayah energi, aku dapat jawaban yang melegakan. Termasuk pembantaian jamaah masjid di New Zaeland kemarin, diskriminasi dan teror di timur tengah, muslim uighur, muslim morro, dsb. Bagiku, ini juga jawaban secara logis mengapa Khidir 'membunuh' anak kecil. Terkumpul energi kebaikan bagi mereka yang nantinya akan didapatkan jika bukan di dunia, maka di akhirat.

Setiap hari allah memberikan rezeki yang sama pada tiap manusia, 100 rezeki (misalnya). Mereka yang menginginkan dunia, 80 untuk dunia, 20 sisanya akhirat. Hitung-hitungan ini milik allah, lalu 100 rezeki itu dalam wujud apa saja juga adalah rahasia allah. Mereka yang sakit, 20 rejeki untuknya di dunia, 80 sisanya di hari itu rejeki di akhirat. Mereka yang buta, yang pincang, rejeki mata dan kakinya hanya 10 atau 20% di dunia, 80-90% nya adalah penolongnya di akhirat nanti. Ini hukum/aturan/sunnatullah yang sangat adil. Dan sangat mungkin ini juga diatur dalam wilayah energi itu.

Dan jika kita hitung nikmat allah, sungguh tak akan bisa. Wa in-ta'uddu nikmatallah, la tuhsuha.(quran)

Mohon maaf jika mengarang terlalu sesat.

Dzahaba dzoma'u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

Selamat berbuka puasa.

Bandung, Jumat 10 Mei 2019

No comments:

Post a Comment