BELAJAR MENIADAKAN TUHAN (1) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, June 18, 2019

BELAJAR MENIADAKAN TUHAN (1)



"Ada hari-hari ketika aku merasa sangat ketakutan untuk berangkat ke sekolah itu," curhat si Jon malam itu. Wajahnya pucat, seakan ini adalah fase tahunan, ketika ia benar-benar berada dalam puncak kebingungan. "Aku tahu, kesalahan April lalu itu sangat fatal. Tapi apa yang harus aku lakukan dengan saudaraku itu? Aku kira, aku telah begitu meniadakan diri. Aku merelakan diri untuk terkurung di sekolah itu meski sebenarnya aku mampu menjelajahi nusantara ini. Aku membudak, mengorbankan kesenangan hidup yang sebenarnya aku mampu meraihnya, tapi, hanya kesalahan kecil yang dilematis, Tuhan seakan tak mau menyapaku lagi."

Entah dengan formula apa aku sebagai kawannya ini mampu mendefinisikannya. Bekerja nyaris tanpa upah, melewatkan CPNS atau sertifikasi, tak boleh jualan, tak boleh disambil kerja di tempat lain karena memang pendapatannya kecil. Saat dia sudah nyaman dengan pekerjaan sambilannya, kakak-kakaknya meminta berhenti tanpa jaminan penghidupan. Bagaimana dengan dengan bayi dan istrinya yang sedang kuliah? Satire.

Kemarin ia menjelaskan perjalanan intelektualitasnya lagi. Tentang keyakinan, tentang iman yang katanya adalah penglihatan. "Iman adalah tentang penglihatan. Kita beriman, yakin, karena tak melihatnya langsung. Dan keimanan tak dibutuhkan lagi untuk mereka yang telah terbuka penglihatannya. Sesuatu yang gaib, bukan hal gaib untuk sebagian orang."

Orang-orang arab memiliki gambaran tersendiri tentang surga dan neraka, seperti dongeng yang selalu dikisahkan orangtua pada anaknya sejak kecil, turun temurun. Gambaran surga neraka ini berbeda dengan manusia di wilayah lain, meski quran diterjemahkan. Seperti ketika kita makan kurma, makan sate, atau menikmati apapun, surga bagi orang-orang arab telah mengerti bagaimana gambaran di sana, rasanya, lalu ditingkatkan ke level tertinggi. Tapi bagi sahabatku itu, surga, neraka, bahkan Tuhan sendiri baginya tak penting lagi. Katanya, ia mulai kembali belajar untuk meniadakan Tuhan.

"Karena yang selama ini kita sembah adalah diri kita yang kita anggap sebagai Tuhan. Dia, tak akan mampu kita bayangkan, pikirkan, analogikan, umpamakan, tak ada yang setara, seperti, sebanding dengan-Nya. Maka dari ramadhan kemarin aku belajar untuk tak menyembah Tuhan yang aku kenal sejak mulai aku mampu berpikir," kata si Jon.

"Lalu, bagaimana kau beribadah saat ini? Bukankah perjuanganmu yang absurd itu adalah bukan karena dunia ini?" tanyaku.

"Aku sedang berjalan, belajar untuk mengikuti rasulullah, apa yang beliau ajarkan, tanpa membawa-bawa Tuhan yang pernah aku pahami,"

Apa maksudnya!!! Aku tak mengerti.

"Aku lebih memahami, bahwa apa yang terjadi saat ini adalah apa yang aku usahakan kemarin. Usaha doa, usaha perkataan, usaha kerja, usaha keyakinan, semua hal. Aku tak membawa-bawa Tuhan lagi dengan apa yang terjadi dalam hidupku. Dia ada diwilayah iman, wilayah gaib, yang tak bisa pikiran pahami, atau sertakan dalam setiap hal," sambungnya lagi. "Bahwa kepemilikan adalah tentang nilai - bukan materi, tentang kualitas, tentang karakter. Kesabaran, rasa syukur, keikhlasan, ini adalah tentang kepemilikan. Kini aku bingung, mengapa Tuhan tetap menguji manusia jika kesabaran telah menyatu dengan darah dagingnya? Untuk apa Tuhan memberi surga jika keikhlasan telah menyatu dalam diri seseorang."

"Bahwa kekafiran itu bukan tentang non-muslim. Karena yang dipanggil Tuhan dalam quran adalah yaa ayyuhaladzina amaanu... bukan muslimu, mukminu. Maka yang kafir bukanlah si kristen, si buddha, atau siapapun yang beragama berbeda denganmu. Tapi mereka yang hatinya tak menggenggam la illaha illallah sekalipun mereka islam,"

Bersambung........

No comments:

Post a Comment