JANGAN JADI GURU! - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, June 17, 2019

JANGAN JADI GURU!

Seseorang masuk ke rumah makan. Ia duduk, memesan, lalu makan dengan nikmat. Tapi ketika pelayan memberikan nota bayaran, ia menolak membayar. Tapi, menejer rumah makan itu mengikhlaskan dengan berkata,”Oh, mungkin dia memang sedang tak punya uang,”

Lambat laun, ternyata ia semakin sering makan tanpa mau membayar. Bahkan ia marah-marah saat diberikan nota bayaran. Menejer rumah makan itu berkata dengan bijak,”Jika tak mau membayar, baiknya makan di rumah saja,”



Bagaimana perasaannya, jika ibu/bapak guru menjadi menejer rumah makan itu?

Begitulah, perasaan seorang kepala sekolah ketika guru-guru sekolahnya tak memahami konsekuensi menjadi seorang guru : tugas, hak, dan kewajiban.

Seorang guru bisa saja berkata,”Tapi di sekolah lain juga santai, kok. Yang penting mengajar. Tidak usah repot-repot memahami tugas, hak, dan kewajiban.”

Maka dapat dijawab seperti menejer rumah makan itu,”Sebaiknya anda ‘makan’ di rumah saja,”

Maksudnya?

Jangan jadi guru, jika tak mau dengan konsekuensinya.

Menjadi guru adalah menjadi pembimbing, penuntun masyarakat. Predikat ‘GURU’, bukan merupakan suatu PEKERJAAN, melainkan DERAJAT. Seorang guru bukan pekerja, buruh, atau tukang, melainkan derajat tinggi di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena pada tangan para guru, generasi masa depan akan tercipta.

No comments:

Post a Comment