Menjaga jarak dari nikmat dunia - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, June 1, 2019

Menjaga jarak dari nikmat dunia

Ada seorang anak muda bernama Jon Quixote. Dia mungkin cicit Markesot, atau setidaknya kerabat jauh keturunan dari nikah silang antara manusia dan bunga melati. Pokoknya aneh benar itu orang. Dimanapun ia hinggap, orang cenderung curiga dengan gelagatnya. Tapi dia sahabatku. Datang kembali ke kota ini dari perantauannya menimba ilmu di negeri barat. Pulang dengan keputusasaan yang sangat dalam : tertinggal kawin berkali-kali, dan melepas karir di negeri jiran dengan gaji belasan juta/bulan. Dan ketika pulang 2012 lalu - ia sarjana, tapi menjadi tukang angon sapi. Melepas 'jubah kemegahan' dari negeri barat, dan menjadi gelandangan menyusuri jalan sunyi menjadi penggembala sapi. Lengkap sudah, kismin, jomblo madesu, bau tlepong.

Tapi -kata dia, hidup ini bukan untuk menghitung-hitung berapa berat derita yang kita terima. Kata dia, jangan bersedih melihat orang hidup senang. Tapi tertawalah bersama orang yang menertawakan penderitaanmu. Bisa membayangkannya? Gendeng kan.

Tahun 2013 dia diberikan tugas yg lebih berat. Memimpin perjuangan sosial. Mendidik generasi bangsa plus emak-emak mereka. Kismin, jomblo, disuruh jadi pemimpin, plus menceramahi emak-emak yang sudah berkeluarga, sudah memiliki anak. Dia kepleset omongannya sendiri yg ia kutip dari quran : limataquluna ma la taf'alun. Mengapa kamu berkata (berceramah) sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Jleb.

Akun youtube dan blog itu miliknya. Dia jamin tak akan mengklaim hak paten orang lain, apalagi merasa memiliki. Dia hanya berusaha, bagaimana agar perjuangan sosialnya tetap berjalan. Kalaupun iklan di akun tersebut adalah suatu keburukan, setidaknya tanyalah untuk apa itu ia lakukan. Karena rasul pun mengajarkan, sekalipun ada pencuri, tanyalah dulu ia mengapa mencuri. Bahkan pada pezina yang meminta dihukum pun rasul begitu toleran sampai ia bolak balik tiga kali karena tak dihukum-hukum.

Simbahnya, Markesot, mengajarkan : anak muda itu harus memiliki kecerdasan akal, kesucian hati, dan keberanian mental. Laki-laki itu harus kerja keras, wani tandang, wani tanding. Si Jon tak boleh mencuri, tak mau mengemis, tapi juga tak bisa ia memajukan perjuangannya dengan hasil usahanya sendiri. Enam tahun ia menjadi pemimpin sekolah, dan enam tahun itu pula ia tak mengambil gaji di tiap bulannya. Karena simbahnya, Markesot, itu bilang : pemimpin itu harus paling menderita, makan paling terakhir, jika ada kebakaran harus paling terakhir keluar. Jika Bill Gates menyumbangkan 99% gajinya untuk perjuangan sosial, si Jon bahkan 100%. Dan dia tak harus menunggu sekaya Bill Gates, selain itu hil yang mustahal, juga karena memang dia petakilan alias gal-gil menjaga jarak dari nikmat dunia.

Jon Quixote pernah berkata seperti yang dikatakan simbahnya, Markesot : Kita ini seperti anak kecil yang asyik bermain di belakang rumah. Sedang rumah kita, kebunnya dipanen orang, batunya diambili, tanahnya dikeruk, bahkan daun, kayu, airnya dicuri membabi budeg. Ratusan ton batubara di Kalimantan diambil, ribuan barrel minyak di blok cepu diambil, emas di papua dijarah, dan kita masih saja seperti anak kecil yang asyik bermain dan marah menangis ketika robot-robotannya dipinjam teman.

Jon Quixote mengikuti saran simbahnya, Markesot : aku pelajari ilmu-ilmu barat, teknologi, astronomi, kejawen, timur tengah ataupun timur kecil (cina, jepang, korea), karena aku punya anak, aku punya siswa. Kelak aku mati, akun-akun medsos itu akan menjadi penawar virus dari ancaman virus medsos yang semakin menggila.

Dzahaba dzoma'u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

Selamat berbuka puasa.

Kamis, 15 Mei 2019

No comments:

Post a Comment