Satu makna dari kemiskinan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, June 22, 2019

Satu makna dari kemiskinan


Kaadal faqru ayakunal kufron.

Kemiskinan yang bagaimana yang menjatuhkan diri pada kekafiran?

Hari ke-28 bulan ramadan tahun 2019, pertanyaan-pertanyaan 'itu' mulai Dia jawab. Tentang keyakinan yang salah, tentang derajat orang-orang mati syahid, tentang takdir, dan banyak hal yang Dia mulai buka hijabnya untukku. Aku dizinkan-Nya 'mengintip' wilayah :

Al-'Imran ayat 169

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.

Betapa berhagianya mereka disana. Seperti kisah dalam imajinasi.

"Allah... Allah... Allah..." panggil seorang hamba dalam kegelapan.

"Kau siapa?" jawab sebuah suara.

"Aku seorang hamba,"

"Siapa yang kau cari disini?"

"Allah, Dia Tuhanku,"

"Tahukah kau, wahai hamba, disini tidak ada yang ada selain Allah?"

"Lalu siapakah Aku dan siapakah Engkau? Mengapa ada banyak suara?"

"Karena Dia tak bertempat, lebih tinggi dari ini, yang merupakan wilayah percikan diri cinta kasih-Nya,"

"Termasuk engkau?" tanya hamba itu lagi.

"Ya, benar,"

Di pagi hari aku bertanya pada imajinasi sang nabi.

"Ya rasul, apakah benar engkau akan marah jika aku kaya?"

Beliau tersenyum sampai gigi gerahamnya nampak, "Jadi selama ini kau tak sungguh-sungguh karena engkau takut ini?" beliau tersenyum lagi. "Bukan kekayaan, bukan apa yang kau miliki itu yang berbahaya. Tapi dari mana kau dapatkan itu, dan bagaimana kau akan membagi (distribusi kekayaan, aku jadi ingat teori ekonomi prof. Abdussalam Pakistan) itu," lalu beliau membacakan dengan sangat syahdu surah Al Humazah.

Kemiskinan yang sebenarnya ketika kita tak mau belajar pada orang-orang kaya, orang-orang sukses, karena takut, karena malu, lalu memilih untuk tidak mengambil bagian dalam kesejahteraan sosial. Aku baca tentang Warren Buffet, Bill Gates, Jeff B. Pemilik Amazon, dan sederet milyader dunia yang sudah mulai hidup Zuhud dan ikut dalam kesejahteraan sosial (menyumbangkan sebagian besar pendapatannya untuk kegiatan kemanusiaan). Aku tak tahu, mereka dalam propaganda apa, atau dalam rekayasa sosial apa, tapi yang pasti, ketika perut-perut lapar itu dapat makan, setidaknya itu menyelesaikan satu persoalan kehidupan. Dan itu oleh mereka, bukan kita. Aku belajar banyak dari nasehat-nasehat Finansial mereka.

Tahun 2012 aku kembali ke kampung halaman. Mencari teman bukan hanya untuk belajar hidup bersama, tetapi juga memperbaiki kondisi finansial kita. Tapi, orang-orang, karena mental 'faqru' tadi, cepat-cepat menyimpulkan bahwa aku ini filsuf, aku ini sufi, dan mereka segera menjaga jarak untuk tidak belajar bersamaku. Padahal, dari banyak orang yang ingin sukses material disini, yang berjuta-juta ikut training motivasi (dan masih miskin saja sampai sekarang) mereka masih belum bisa menghasilkan uang ketika diri mereka sedang tertidur. Nasehat Warren Buffet, jika kita tak menemukan cara agar tetap mendapatkan uang ketika kita tertidur, maka bersiaplah bekerja keras seumur hidupmu. Memangnya masalah? Jika waktu hidup kita habiskan untuk bekerja keras di tempat kerja, maka porsi waktu kita untuk keluarga dan masyarakat otomatis akan berkurang. Kita hanya punya waktu 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Dan yang lebih penting lagi, kita tak tahu kapan usia kita akan berakhir. Dari semua orang di sekitar ku itu, hanya aku yang telah memiliki 'alat' yang terus menghasilkan uang meski aku tertidur atau tak bekerja, walaupun sangat amat kecil.

Maka aku mencari teman disini, bukan hanya untuk berpetualang dalam keilmuan, tapi untuk menggandakan yang 'kecil' itu. Bukan untuk diri kita sendiri, tapi seperti yang ku ceritakan di awal paragraf, kita ikut serta dalam distribusi kesejahteraan masyarakat.

Dan mudah-mudahan dengan pencarian ilmu itu kita dituntun agar tak melampaui batas, hilang kontrol diri, juga terlepas dari hadits rasul di awal paragraf. Karena meninggalkan banyak warisan adalah hadits yang diturunkan untuk Ka'ab bin Malik, seorang sahabat yang baru saja munafik tak ikut berjihad di perang Tabuk. Agar semakin mantap pertaubatannya, sebagai balas kejujurannya pada allah dan rasulullah. Sedangkan rasulullah sendiri wafat nyaris tak mewariskan materi apapun, bahkan meninggalkan hutang segantang gandum pada tetangganya seorang yahudi.

Allahuma sholi ala sayyidina Muhammad wa alaa alaihi wasalim.

No comments:

Post a Comment