Tentang kedalaman berpikir - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, June 14, 2019

Tentang kedalaman berpikir



"Buat apa sih ente mikirin hal-hal berat begitu, penciptaan, pendalaman kata per kata quran?" tanya Beth. "Terus kalo sudah tahu ente bakal jadi nabi, begitu? Bakal jadi hamba pilihan?"
"Ini tentang iqra, baca, kualitas akal sehat, dan tahapan berpikir," Jon menjelaskan. "Aku tak peduli pada apa yg akan aku dapatkan nanti, kau tahu aku tak harap surga atau apapun dari Tuhan. Agar aku tak salah jalan, mana wilayah ilmu yg sebaiknya terus mendaki, dan mana wilayah iman yg harus sami'na wa atho'na : aku dengar, dan aku taat,"

"Ya ampun, cuma itu? Apa enaknya sih, repot-repot merenung begitu? Tanpa memikirkan hal itu bukan berarti akal kita tak sehat, kan?"

"Aku tak mau menghakimi orang lain," kata Jon. "Semalam aku juga habis dimarahi ustadzku. Tentang razia warteg. Kita ramai bahas itu. La yanfa'u hum! Katanya. Jangan beri maaf! Sudah jelas begitu, masih saja melawan Perda dan kesantunan di bulan ramadan!" Jon menirukan. "Ini tentang tahapan berpikir. Aku tak mungkin membesarkan api yg sudah menyala," dia bermajas. "Maka aku diam. Aku membedakan mana wilayah negara, mana wilayah agama, tapi tak terpisah. Sholat dan ketenangan hati itu beda, tapi tak terpisah. Kita sholat tapi hati masih gelisah, sholat kita belum baik. Kita tenang tanpa sholat, ketenangan kita bisa jadi dari setan, bukan dari Tuhan."

"Ente ngomong begitu ke ustadz ente?" tanya Beth.

"Ya gak laaa..." jawab Jon. "Aku tak mau membesarkan api yg sudah menyala dalam diri seseorang. Ini tentang tahapan berpikir. Satpol PP yg gaji siapa? Pemerintah itu dapat duit dari siapa? Atas nama Tuhan, pelayan (pemerintah) mengkasari majikannya (rakyat). Kalau ada orang jual makan siang-siang saat puasa, dan tak ada yg beli, dia pasti tak mau jualan lagi. Buat apa jualan kalau tak ada yg beli? Tapi kalau dia jualan, ada yg beli, mengantri, apa yg disalahkan penjualnya? Kita bercermin dan di cermin kita terlihat jelek, lalu kita pecahkan cerminnya? Tapi tak mungkin aku memaksakan pemahaman. Ini tentang tahapan berpikir, Beth,"

No comments:

Post a Comment