Yang terpenting adalah kebahagiaan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, June 8, 2019

Yang terpenting adalah kebahagiaan

MUQADIMMAH EVALUASI RUTIN, SABTU, 17 Nov. 2018

Umumnya orang bekerja karena imbalan gaji, baik itu besar atau kecil, jika memang dirasa belum ada kesempatan pekerjaan lain yang bergaji tinggi. Perdebatan paling seru, dan dekat, antara uang dan kebahagiaan terjadi dalam rumah tangga keluarga. Hal yang nampak remeh - uang, tapi menjadikan kehidupan terasa rumit. Saya sendiri belum bisa menyatakan merdeka finansial, terlepas dari anggapan orang. Saya, seperti kondisi bapak/ibu, juga masih dalam proses perjuangan menuju kemerdekaan finansial. Tidak ditakuti masa depan, apalagi 'hanya' karena uang. Tapi setidaknya saya sudah dari dulu - mungkin ini alasan Tuhan mengamanahkan MI pada saya, tidak gumun (nggragas, ambisi, heran) terhadap uang, jabatan, atau apapun yang oleh manusia modern diperebutkan. Bahkan istri saya, tidak bisa bicara apa-apa ketika masalah uang tiba-tiba menjadi sesuatu yang terasa rumit untuknya. Mengapa? Saya membuat batas sebelum pernikahan dilangsungkan, agar ia mengerti mana hal-hal yang layak diperdebatkan, dan mana yang tidak. Uang, adalah hal yang sama sekali tak layak untuk kami bahas lama-lama.

Akan sulit teman-teman (selanjutnya saya pakai 'anda' agar tidak kepanjangan) temukan, cara menejerial atau memimpin seperti yang saya lakukan di sekolah lain. Saya jamin. Anda nyaris tidak pernah melihat saya marah, menggebu-gebu, nyi-nyir, dan hal-hal yang telah lama saya menyimpannya di 'gudang' jiwa saya. Orang modern menganggap cara memimpin saya adalah cara yang bodoh, gendeng, atau setidaknya : aneh. Saya hanya akan berdebat untuk hal-hal mendasar, filosofis, visioner, dan hal-hal besar lainnya. Anda akan sulit menemukan saya tertarik membahas hal-hal selain yang semacam itu. Dari ini, anda akan paham 'wilayah' kebahagiaan kita berbeda. Dan itu oke. Ikan akan senang di air, sedangkan burung akan senang di langit.

Saya tidak lantas sering marah karena guru sering berangkat siang, istirahat terlalu lama, pulang sebelum waktunya, parenting sabtu sore (pomg) tak hadir, evaluasi mingguan izin, dan hal-hal teknis lainnya. Selama itu anda rasa membuat bahagia, its oke. Tapi, sebuah lembaga tak bisa berjalan dengan baik, jika tidak ada irama kerja yang seimbang. Tidak akan maju, jika hanya pemimpinnya saja yang berpikir visioner, dan yang lebih penting, sangat tabah. Kita harus seimbang, bagi tugas, terjadwal, meski tak harus juga kaku atau tak fleksibel. Jika tak begitu, maka langkah daruratlah yang akan saya ambil, yaitu wewenang sebagai pimpinan, dan jelas ini akan merusak kebahagiaan anda sebagai guru, sekaligus keluarga MI Ar Rahman.

Saya pernah juga mengajar di sekolah lain, di yayasan lain. Saya sangat paham hal-hal apa saja yang membuat guru merasa tersiksa. Hal-hal apa saja yang membuat guru merasa bahagia. Itu menjadi dasar saya, agar tidak melakukan hal-hal yang memberatkan guru, tanpa kesadaran bahwa tugas/tanggung jawab itu memang harus dituntaskan, meski terasa menyiksa. Itu mengapa, evaluasi mingguan saya rutinkan. Agar kita terus belajar, menambah wawasan, memperluas pemahaman, dialog (atau bila perlu berdebat hal-hal yang mendasar), karena menjadi guru itu bukan hanya masuk mengajar lalu pulang. Di atas kebahagiaan kita, ada mereka, siswa. Dan yang lebih  penting dari itu, melahirkan generasi yang ikut memperbaiki bangsa ini. Bukan sebaliknya, kita hanya meluluskan anak-anak yang rusak akhlaknya, lemah cara berpikirnya, dan yang lebih penting lagi, jauh dari Tuhannya. Na'udzubillah.

Mari, terus belajar.💪😁

No comments:

Post a Comment