Melebihi kesabaran Musa (1) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, July 6, 2019

Melebihi kesabaran Musa (1)

Sabtu, 6 Juli 2019

Yang terendah adalah derajat keinginan, kedua adalah kebutuhan, lalu cinta, dan tertinggi adalah derajat ketaatan. Mungkin kau sedang berada disana.

Satu dialog dalam perjalanan pulang si Jon dari lingkaran sinau bareng yang dia ikuti.

"Kau tahu, Jon, mengapa Aku turunkan gerimis malam ini?" sapa suara dari kesunyian diri.

Yang ditanya menggelengkan kepala mendengar takdzim.

"Sebelum kau ucap basmalah di paragraf terakhir tulisanmu itu (Jon menulis mukodimah untuk lingkaran sinau bareng yang dia ikuti), kau lupa menuliskan : Insya Allah*,"

Astaghfirullah...

"Kau tulis 'perjalanan ini mungkin lebih lama', kenapa kau tak sertakan Aku disana (tanpa 'Insya Allah')? Silakan lupa, dan Aku akan selalu mengingatkan-Mu," kata sapaan itu lagi.

"Tapi, mengapa aku?" sanggah Jon Quixote. "Mengapa kesalahanku Engkau timpakan pada mereka semua?"

"Aku tahu, dengan keteraniayaan yang kau alami, jiwamu meluas," jelas sapaan itu. "Kau adalah mereka, dan kau kira hanya kau saja yang mau menikmati kemesraan bersama Tuhan?" lanjutnya. "Aku beri gerimis, bukan hujan. Agar kau tak berprasangka buruk padaku, betapa aku membencimu hanya karena kau lupa menyertakan aku disana : Insya Allah. Sebaliknya, tak mungkin aku membenci diriku sendiri,"

Jon terlambat datang ke lingkaran sinau bareng itu, karena kedatangan tamu. Satu mahasiswa lokal, dan satu fresh graduate dari universitas semarang. Seperti biasanya, dia berbagi. Pada siapa saja yang datang, hanya saat butuh atau rutin belajar bersama, ia tetap bergembira. Ada anak-anak, orang-orang yang menganggapnya bagaikan WC umum. Setelah 'buang hajat' (masalahnya dapat solusi, dsb), Jon ditinggal-lupakan. Tapi ada juga yang menjadikannya benar-benar teman. Datang menemaninya yang selalu dalam 'semedi' kesunyian dirinya sendiri.

Sebagai manusia, terkadang ia bertanya pada dirinya sendiri. Entah diri yang mana. Jika mereka, masyarakat merasa teraniaya, membutuhkan uluran tangan, kesepian, ia selalu menyediakan dirinya. Bukan karena apa-apa, tapi memang ketaatan pada Tuhan dibuktikan dengan meniadakan diri, yang terpenting adalah kemauan-Nya. Tapi saat ia sendiri terjatuh, terlempar dalam sepi, tercekik dilema kemanusiaan, kebingungan intelektual dan spiritual, pada siapa ia akan datang, jika pada Tuhan hanya mendapat jawaban : Bersabarlah, jika kau ingin selalu bersama-Ku. Innallaha ma'a shobirin.

Maka beruntunglah ia yang telah melampaui ujian derajat keinginan, mendaki derajat kebutuhan, tenggelam dalam derajat cinta, dan lulus derajat ketaatan. Ia harus melebihi kesabaran Musa ketika bersama Khidir. Tak banyak bertanya, tak membantah apapun saja yang menimpa.

"Jika menghadap-Mu aku hanya mendapat jawaban sabar, lalu harus kemanakah aku selain pada-Mu, Tuhanku? Perut yang lapar itu harus terisi, tubuh yang kedinginan itu harus tertutupi, dan diri yang teraniaya itu harus dilindungi, tapi dengan apa jika Kau hanya berkata : innallaha ma'a shobirin?"

Selalu, pukulan terberat bukan dari para penguasa yang merasa mampu menganiaya, tapi dari orang-orang yang kita cinta, yang memerangi apa yang kita perjuangankan. Rasulullah dengan paman abu jahal dan lahab, Nuh dan Luth dengan istri dan anaknya, lalu Ibrahim dengan ayahnya.

*Al-Kahf ayat 23

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَاىْءٍ إِنِّى فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًا

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,

Al-Kahf ayat 24

إِلَّآ أَنْ يَشَآءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسٰىٓ أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّى لِأَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا

kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini".

Bersambung...

No comments:

Post a Comment