Nandur (filosofi jawa) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, July 27, 2019

Nandur (filosofi jawa)

Nandur (Natani Mundur)

Mukodimah Evaluasi Rutin MI Ar Rahman, Sabtu, 27 Juli 2019

Kita belajar dari konsep orangtua kita, filosofi jawa 'Nandur' yang dimaknai dengan 'Natani Mundur', kelihatannya akan hancur tapi sebenarnya sedang ada pertumbuhan disana. Orang melihat sekolah kita adalah sekolah yang nyaris tanpa harapan. Kita bisa menghitung-hitung sendiri mengapa sebagian orang (haters) menilai begitu. Di balik kenampakannya yang 'hidup segan mati pun tak bisa', ternyata masih ada perkembangan yang terus berjalan. Selain program sekolah dan pembelajaran, minggu ini kita mendapat juara tiga lomba ipa tingkat kota. Itu jelas rahmat allah. Alhamdulillah.

Nandur, menanam padi itu pelajaran hidup. Bahwa kita yang hidup perih dengan memutuskan menjadi guru, terlebih di tempat yang jauh dari kata mewah, ini ibarat sedang menanam. Benih-benih padi itu adalah anak-anak kita. Sawah lumpurnya adalah sekolah, dan parenting atau pengajian orangtua siswa. Dan guru, adalah petaninya. Maka guru jelas harus punya ilmu, berpendidikan meski tak harus terpelajar. Harus terdidik, mampu mendidik, sekalipun misalnya tanpa gelar.

Mengapa banyak petani yang gagal panen? Mereka tak paham ilmunya. Berbeda dengan petani dulu yang bersahabat dengan alam : mereka paham cuaca, kualitas tanah dan air, kualitas dan kuantitas pupuk, perhitungan biaya dan waktu. Petani sekarang yang penting tanam, dan berharap selalu panen.

Itu seperti seorang guru yang tak mau belajar lagi. Merasa ilmunya sudah cukup, karena toh yang diajar adalah anak-anak kecil. Tak paham kapasitas anak, gairah dan impian mereka, minat dan bakat, atau perubahan adab dan akhlak. Itu seperti petani di atas, yang menanam, nandur, natani mundur, dan ternyata benar-benar hancur. Berapa banyak guru-guru yang mengeluh adab/akhlak anak-anak zaman ini hancur, dan berbagai keluhan lainnya, seakan-akan itu adalah mutlak karena anak-anak itu bodoh dan malas.

Al-A'raf ayat 58

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذْنِ رَبِّهِۦ ۖ وَالَّذِى خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْءَايٰتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.

No comments:

Post a Comment