Titik terendah - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, July 24, 2019

Titik terendah

Hampir tiap malam aku pulang membawa perasaan bersalah. Padamu, tentang perjuangan itu, dan mungkin saja ini selalu tentang pendidikan yang aku jalani dari Tuhan. Perasaan yang terus aku lawan, atau setidaknya aku damaikan. Karena tak mungkin aku mampu memimpin banyak orang, jika dalam diri ini pertempuran belum mampu ku menangkan. Entah berapa kali dalam sehari aku memohon ampun pada Tuhan karena kelemahanku. Belum mampu menjadi seorang pria, sekaligus ayah yang dapat diandalkan. Seringkali, Tuhan memposisikanku pada kondisi yang aku sendiri tak tahu harus berbuat apa selain berdoa.

Tapi setidaknya kini jiwaku makin tenang, meski beban masih tetap berat seperti dulu. Beban perjuangan itu masih tetap, namun tekanannya berkurang. Kini aku semakin melihat, seakan takdir masa depan. Tentang jaya atau lenyapnya perjuangan itu. Apapun yang terjadi, untuk kalian aku akan terus berjuang, disini atau di sisi manapun bumi, karena bumi Tuhan tak hanya disini. Terkadang, Tuhan memang memberikan suatu garis takdir yang menakutkan hanya untuk menguji saja. Kita akan tetap teguh percaya kepada-Nya, atau sebaliknya, menyerah dan kalah.

Jika orang lain membenci dan mengeluhkan titik terendah dalam hidupnya, sepertinya aku justru menjaga. Agar tetap berada di titik kerendahan, tak merasa meninggi, rendah ataupun tinggi dunia ini mengangkatku ke permukaan. Aku menjaga jiwa agar tetap berada di kerendahan, di titik awal, di kordinat akar, terlepas orang-orang menganggapku di kordinat ketinggian apapun. Aku benar-benar tak mengerti, mengapa dunia ini begitu terasa membanggakan dalam pandangan orang-orang. Aku tak paham, mengapa manusia memperebutkan kesementaraan. Bahwa kepemilikan bukanlah tentang benda-benda, bukan tentang wujud-wujud, wadag, melainkan karakter, keperkasaan jiwa, kualitas batin, yang jelas-jelas akan menjadi penanda (cerita) ketika kita telah tiada. Lalu di akhirat nanti, kita akan menjelajahi perjalanan panjang dengan kekuatan karakter itu. Berbeda ketika kita bayi, setelah mati, kita memiliki bekal karakter batin itu. Jika yang kita kumpulkan adalah dunia, maka dengan apa kita akan melakukan perjalanan disana, sedang dunia akan kita tinggalkan disini?

Rabu, 24 Juli 2019, Masih di Tegal

No comments:

Post a Comment