Hari-hari tergelap - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, August 27, 2019

Hari-hari tergelap

_Innamal hayyatid dunya la'ibuw wa lahwu_

Ayat itu nampaknya tokoh kita, Jon Quixote, pelajari sejak kuliah. Tuhan senang bercanda, tapi tidak diciptakan dunia ini untuk dimain-mainkan. _The God not play a dice_, Tuhan tak bermain dadu dalam menggerakan dunia ini. Dia punya rencana sempurna, dan manusia bisa memilih. Meski tak selalu pilihan yang diputuskan itu enak, manusia harus kuat. Enak dan tak enak itu urusan selera, dan mementingkan selera hanya untuk manusia-manusia berjiwa kerdil.


Setiap manusia pasti pernah mengalami hari-hari tergelap dalam hidupnya. Begitu juga si Jon Quixote. Rentang tahun antara 2013-2017, dia depresi. Seakan melawan musuh besar yg tak bisa ditaklukan, tak bisa lari, tak bisa menyerah, pun tak mati-mati setelah ia babak belur dipukuli. Seakan hari-harinya adalah neraka. Babak belur, hancur di malam hari, lalu paginya utuh lagi. Menangis tak akan, melarikan diri dari tanggung jawab orangtunya itu juga tak mungkin.

Lima tahun, hampir tiap bangun pagi ia tak bisa beranjak. Pikirannya tersesat. Untuk apa hidup semangat-semangat, toh hasilnya sama saja. pikirannya buntu, bangun jam 5 pagi mulai bangkit dari duduknya jam 7 pagi. Tak peduli sholat subuh jam berapa, tak hirau berangkat kerja jam berapa. Pikirannya segelap pandangan hidupnya.

_Fa aina tadzhabun?_ Mau lari kemana, Jon? Ke orang-orang NU kau diejek, ke orang-orang MD kau didiamkan, ke partai kau dihina, ke pemerintah kau ditertawakan, dan ke.para aghniya (orang kaya) pun kau diusir. Keluargamu memarahimu, tapi ketika kau mengundurkan diri, mereka menolak. Dinilai tak becus bekerja, tapi keluar pun tak boleh. Ke paman dan bibi kau hanya mendapat nasehat kosong, ke kakakmu sendiri kau diajak berkelahi intelektual, tapi tak boleh mengalahkan. Karena kalau kakaknya kalah, si Jon sendiri lah yang kena marah keluarganya. Tak dapat kesejahteraan, tak punya teman berjuang, menanggung beban banyak orang, hanya mampu berdoa agar _rumah pendidikan_ rakyat itu tak hancur duluan sebelum bantuan Tuhan datang.

Ending hari-hari gelap itu diputuskan Tuhan Desember 2017. Ketika di tahun 2018 Jon tak lagi memikul amanah leluhur itu, dan diserahkan kembali ke keluarganya. Tapi banjir besar datang, tak ada yang mau tanggung jawab membereskan, Jon pun turun tangan lagi. Merapikan kembali. Mulai tahun itu ia seakan _disingkapkan_ pemahaman, _kasyaf_, wilayah-wilayah pemahaman rahasia. Ia semakin aneh, bukan karena depresinya, melainkan kembali ke titik nol ekspektasi seperti saat kuliah dulu.

Titik 0 (nol) ekspektasi adalah kondisi ketika seseorang sudah tak berharap, tak berkeinginan, tak memiliki titik-titik tuju material lagi di masa depan. Bukan hanya jangka panjang, tetapi juga apa yang akan dikerjakan sedetik, semenit kemudian saja dia tak berharap apa-apa. Hidup mau _begini_ atau _begitu_ terserah Tuhan. Dia mengalir. Dalam tiap apa yang akan dipikirkan, dikerjakan, dia menyerahkan pada Tuhan, _bi'idznillah_. _Sakarep-Mu_, Tuhan. Mau terjadi alhamdulillah, tak terjadi juga toh dia tak berharap apa-apa. Dunia terasa hambar, hatinya dalam kesunyian yang tak ada seorang pun paham. Di tahun pertengahan Jon kuliah, perasaan seperti itu pernah datang. Saat ia KKN (kuliah kerja nyata). Dia menuliskan _formula_ yang disebut _teori pesimisitas terbalik_.

_Suatu kondisi perasaan kosong, yang orang-orang melihat lahiriahnya sebagai orang yang lemah, lesu, tak semangat. Tapi sebenarnya dalam dirinya ada kekuatan besar, _jurus pawang_, yang siap mengubah keadaan dan menunggu waktu dengan sangat tabah, sangat sabar. Ketika kau melihat seseorang yang seperti ini, dekati ia, gali ilmunya, karena darinya kita dapat melihat bercak-bercak cahaya rasulullah shollu alaih_. (Pesimisitas terbalik, Agustus 2010).

Dan kini, gelap atau terang hanyalah bagian. Hidup ini bagian-bagian. Ketika kau dalam kegelapan, maka bagian lainnya (terang) pasti akan datang. Bersabarlah.

Senin, 26 Agustus 2019

No comments:

Post a Comment