Ma'assalamah Ya Nafsi - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, September 6, 2019

Ma'assalamah Ya Nafsi

H-5 Yarji'u ilaa ghoriiba

Yang melegakan adalah, di akhirat nanti orang-orang kafir dan munafik tak mampu membedakan mana surga dan mana neraka. Seperti ketidakmampuan mereka membedakan mana jalan kebenaran dan mana yang menyesatkan di dunia ini, mana sampah mana harta berharga, mana ilusi dan mana kenyataan. Ruang ganti setan berdiri kokoh dalam diri mereka, setan-setan tak berganti kecuali pergi dengan rasa bangga melapor ke atasan mereka - merasa sukses.  Ini melegakan, karena seperti apapun Tuhan nanti mempersilakan mereka memasuki surga yang bahkan tidak berpintu (hanya seperti gapura saja), mereka menolak. Karena yang mereka lihat bukanlah surga, tapi neraka. Seperti itu pula orang-orang kafir dan munafik di dunia ini, seperti apapun Tuhan datang (dalam wujud-Nya yang seringkali tak menyenangkan), mereka menolak. Antuqbalu minhum nafaqootuhum illa anhum kafaru, mereka infaq tapi hati mereka menolak kebenaran, rasul, dan quran. Lalu mereka sholat dengan malas, dan berjuang untuk riya, pamer, eksistensi. Kata siapa kafir itu pasti non-muslim? Mereka sholat dengan enggan, nah, paham kan? Muslim pun bisa hatinya kafir.

Orang-orang dalam cerita di atas adalah mereka yang merasa bangga dengan akal pikirannya. Menganggap bahwa apa yang tak masuk akal itu tidak ada, tidak nyata. Mereka tak mengerti bahwa 'diri' (nafsi) berjalan dalam beberapa tahap. Tertipu dalam langit-langit nafsu, tenggelam dalam samudera akal pikiran, dan tak mampu 'mentas', keluar beranjak menuju kesadaran ruh, hati yang suci. Kesadaran orang-orang yang melambaikan tangannya pada pikiran. Tak bergantung bahkan dari pikiran yang dari kecil susah payah mereka konstruksi (bangun, tumbuhkan). Mereka 'mengkhianati' pikiran mereka sendiri. Sudah talak, tapi tetap berdekatan. Boleh membantu hanya dalam koridor ketaatan pada Tuhan dan rasulullah. Pikiran yang datang dengan tunduk takdzim pada hati, di hadapan ruh. Lalu meminta bai'at, disucikan dari apa yang selama ini ia kira benar. Karena perkiraan, prasangka, sedikitpun tak akan mempengaruhi kebenaran. Seperti kisah surga neraka di atas.

Tahapan nafsu, akal pikiran yang berisi pengetahuan dan pemaknaan pengalaman, lalu mi'roj menuju kesadaran ruh. Orang-orang yang sudah sampai ke lapisan langit ini adalah mereka yang tahu persis dunia ini tak lebih seperti setetes air di hadapan samudera. Orang-orang yang telah kasyaf, terbuka hijab kegelapan pikirannya, lalu dengan izin Tuhan, ia mampu melihat ruh-ruh di wilayah itu saling muttaki-inna ala furusyim bathoo inuha min istabrok. Mereka bersandar, berbincang, berjumpa, membicarakan kebenaran, cinta pada jalan kenabian, dan Tuhan. Dan itu mereka lakukan dalam kehidupannya dunia, bukan setelah mati. Bersambung...

Kamis, 5 September 2019

No comments:

Post a Comment