Lingkaran pikiran - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, September 3, 2019

Lingkaran pikiran

H-8 Yarji'u ilaa ghoriiba

Masih sama seperti kemarin. Zona nyaman ini harus dihancurkan, atau ditinggalkan biar hancur sendiri. Seperti hati yang tak dihuni cinta lagi, ia akan tersiksa, lalu mati tanpa disadari yang punya.

Kini kamu harus belajar, bahwa apa yang akan kita lakukan, bahkan lebih jauh dari itu, apa yang kita pikirkan dan ucapkan, jangan pernah memastikan. Bahkan dalam berucap, kita diajarkan sang nabi untuk robbi a-udzubika min hamazatisy syayathin, agar kita dilindungi allah dari setan yang mengiringi tiap kata-kata kita. Dan wa a-udzubika robbi ayyahdlurun, yang mendekati kita dari apa saja yang kita inginkan. Belajarlah untuk paham, bahwa - bahkan - ucap dan pikiran kita itu belum pasti kita kuasai, kendalikan. Dengan itu, kemudian kita juga sewajarnya paham, jika itu belum dapat kita pastikan menguasai, maka belum pasti juga tiap ucap dan pikiran menjadi milik kita.

Tapi, Jon. Menghina quran itu tak harus dengan menginjak atau mengencingi kitab suci itu. Tetapi semua hafalan yang ada dalam jiwamu itu, jika kau menunggu 'mereka' (ayat-ayat itu) menyapamu tanpa kau bersentuhan dengan semesta, belajar, berjuang untuk semesta (meski kecil), maka kau pun menghinanya. Penghinaan terbesar quran itu ketika engkau 'menggenggamnya', tapi hatimu bersama dunia. Engkau mendua, engkau menganggap bahwa dunia ini menyenangkan lagi.

Kau harus paham, Jon. Bahwa manusia hidup di dalam lingkaran pikirannya sendiri. Lingkaran tempatnya kemungkinan-kemungkinan. Lalu kau ditakuti tentang hal-hal yang mungkin itu, ditakuti oleh bisikan-bisikan, 'fishshudur' tentang sesuatu yang belum pasti terjadi. Dan mengapa kau memfokuskan jiwamu pada sesuatu yang tak pasti? Karena yang pasti adalah milik-Nya. Karena yang pasti ada di luar lingkaran pikiran, hasil konstruksi (buatan) dari pertumbuhan kita sejak kecil. Maka mencapai-Nya harus mengkhianati apa yang selama ini kita bangun. Pikiran kita, pengetahuan kita, semua yang kita anggap berarti, ketika kita keluar lingkaran, itu tak lebih dari setumpuk jerami yang siap dibakar, lalu lenyap (Thomas Aquinas).

Senin, 2 September 2019

No comments:

Post a Comment