Hayawan tapi bukan An'am - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, November 29, 2019

Hayawan tapi bukan An'am

Apakah ayam dan kambing itu berdoa sebelum pagi datang/siang menjelang?

"Ya Tuhan, beri kami makan, beri kami perlindungan"?

Mereka, setidaknya dari riwayat-riwayat yang pernah kita baca, tak pernah melakukan itu. Jika pun binatang lebih bodoh, lebih lemah dari manusia, nyatanya mereka tak takut bahkan dengan kehidupannya sendiri. Maka manusia berlindung dari doa-doa yang dipanjatkannya, bahwa sebenarnya doa-doa itu keluar dari rahim ketakutan dan kepecundangan diri manusia.

Jangan jadikan doa sebagai tanda keraguan kita pada Ar Rozaq-Nya. Karena Tuhan tak mungkin mengembargo rahmat-Nya. Jadikan doa itu sebagai tanda ketundukan, ketidakberdayaan, dan sapaan :
"Tuhan, aku hanya ingin menyapa-Mu di subuh ini. Dan apapun yang akan Engkau takdirkan untukku hari ini, selama Engkau ridho, aku pun sama,"

Seringkali aku berpikir, apa yang menjadi batas manusia harus terus berusaha atau cukup duduk saja nanti Tuhan kasih rejekinya?

Tapi, ketika perjalanan sampai ke hadapan-Nya, tiada lagi pertanyaan tersisa. Tak ada lagi perdebatan-perdebatan di dalam lingkaran (sampah) pikiran. Dan pada akhirnya, suara-suara riuh itu menghening. Pada akhirnya, suara-suara gugatan itu juga akan melemah. Pada akhirnya, berat beban yang menekan itu juga tak akan terasa. Dan pada akhirnya, panas neraka itu akan didinginkan oleh waktu, lalu semua itu akan lenyap. Seperti kotoran ayam yang pada awalnya hangat, lalu mendingin-keras.

Bergeraklah menuju kebutuhanmu yang memang sudah Tuhan sediakan. Karena jika itu kebutuhan, kau tak akan berlebihan. Dengan mengenali keinginanmu, kau mampu mengendalikannya. Mengaturnya, kapan kau boleh memakainya, dan berapa lama waktunya agar kau tak kehilangan kesempatan mendapatkan sesuatu yang lebih mulia daripada, dan setelah itu.

Karena jika itu kebutuhan, kau hanya memerlukannya sampai batas cukup. Karena keinginan akan selalu merasa kurang, dan diawali rasa bosan. Kebutuhan berjodoh dengan kecukupan, cinta akan selalu merelakan, dan ketaatan selalu tentang meniadakan diri. Maka kalimatnya adalah 'Kal an'am bal hum adlol', seperti binatang ternak bahkan lebih sesat. Karena jika hanya menjadi binatang saja, manusia sudah cukup baik. Hewan yang kita anggap sebagai liar, mereka tak pernah rakus, mereka hidup hanya untuk kebutuhan dan tak sampai melampiaskan keinginan, mereka tak membunuh lainnya kecuali ketika terdesak. Bukankah manusia juga begitu? Tak dihukumi bersalah jika ia menyakiti karena teraniaya? Hewan, tapi bukan ternak. Yang hidupnya terkurung, malas, tak mau 'kluyuran', melakukan perjalanan (lahir ataupun batin), dan hanya menerima, tanpa mampu memberi, berjuang untuk sesamanya.

No comments:

Post a Comment