Jarak jalan surga - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, November 19, 2019

Jarak jalan surga

Lawla unzila ilaihi malak, mengapa malaikat tak mengiringinya jika ia adalah nabi?

Ketika rasul menjadi tema gosip orang-orang pasar, mereka mempertanyakan : mengapa jika ia adalah nabi tak diiringi malaikat? Mengapa jika ia adalah rasul, hidupnya miskin?

Kemudian Jibril turun, menawarkan kekuatan, yang bukan hanya dalam hal harta, tapi juga kekuasaan tanpa mengurangi amal yang telah terkumpul di akhirat. Tapi sang rasul menjawab : yajma'u lil akhiroh. Kumpulkan saja semua itu untuk nanti di akhirat. Sekelas rasul saja, hampir-hampir jika menerima balasan dunia, harus mengurangi amal yang terkumpul di akhirat. Lalu bagaimana dengan kita? Kekayaan itu, kekuasaan itu, harga mahalnya adalah terus berkurangnya 'saldo' pahala kita di akhirat sana. Itu ada dalam tafsir jalalain surat al furqon : 7-8. Harga yang 'ekstrim'.

Rasul jalan-jalan ke pasar, memakan makanan, tak mengurung diri semedi di dalam kamar atau padepokannya. Seringkali saya juga ingin begitu, jalan-jalan sekedar ke alun-alun, atau mampir ke teman lama untuk berbincang, tapi selain keberadaan para pahlawan yang jarang singgah di dompet saya, mau kemana juga pikir dua kali, saking faqirnya. Mau berkunjung ke teman, semakin bertumbuh, semakin susah mencari tema bicara yang baik. Akhir-akhirnya, masuk ke lubang rerasan alias gosip membicarakan orang. Kebanyakan teman tak suka membahas ilmu/pemahaman hidup, sedang yang saya fokuskan justru itu. Tak ada cerita yang saya miliki kecuali kisah-kisah yang mereka anggap sebagai kepedihan.

Hidup ini benar-benar anugerah. Maksudnya begini : sifat manusia itu benar-benar mampu menyesuaikan diri dengan hampir nuansa apapun. Lebih dalam lagi, jika pun manusia terbiasa menderita, hidup sengsara, maka manusia akan tumbuh dalam kekuatan. Satu nuansa jiwa yang menganggap biasa saja apa-apa yang orang-orang sebut sebagai kepedihan. Seseorang yang terbiasa puasa, ia akan sampai pada titik ketika ia merasa 'enggan', enek, ketika harus memakan, menikmati, lebih dari apa yang biasa dia nikmati saat sahur atau berbuka. Seseorang yang hidupnya menjadi tarekat (thoriqot) tanpa jamaah, yaitu ngempet, menahan dari kesenangan yang sebenarnya ia mampu meraihnya, maka ia akan sampai pada titik hambar menikmati dunia dalam hitungan dirinya sendiri. Dia akan hidup faqir, secukupnya, seperti hewan yang mencari makan, atau tumbuhan yang menyerap air/unsur hara dari dalam tanah.

Itu mungkin adalah bekal jalan untuk di akhirat. Semua cara hidup di atas. Selain surga-neraka akan nampak seperti kekeliruan yang dikejar-kejar manusia di dunia (dalam judul sebelumnya), jarak jalan surga juga berbeda-beda. Dan mereka yang telah terbiasa dengan kepedihan hidup, jarak jalan surga yang nampaknya sama dengan yang lain, ternyata pendek saja. Seperti ilusi, nampak jauh, tapi setelah satu dua langkah, ternyata langsung sampai di gerbangnya. Untuk itulah mungkin rasulullah menolak ketika jibril datang jauh-jauh dari langit menawarkan dunia TANPA MENGURANGI PAHALA DI AKHIRAT, beliau menolak.

No comments:

Post a Comment