Pulang - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, January 26, 2020

Pulang

Dulu sekali, ketika masih menjadi tukang angon sapi, si Jon menemukan jawaban mengapa sebagian manusia tertakdir 'mengenaskan'. Menderita, bahkan dari upaya-upaya hidup yang dia lakukan. Sampai akhirnya, ia menemukan jawabannya : bisa jadi, hidup ini justru anugerah terbesarnya. Bukan pada kepemilikan sesuatu, atau kesenangan tertentu yang dapat manusia nikmati. Kalau bahasa Bill Gates : Engkau tak akan kecewa selama terus menekan harapanmu sampai ke titik nol. Bahasa tasawuf, hadzun nas, bergantung pada manusia akan membuatmu sengsara. Bukan harapan hidup enak dan mewah, melainkan hidup itu sendiri adalah sebuah anugerah, apapun yang terjadi.

Penderitaan sendiri, jelas ini hasil kesalahan pendidikan dari kita kecil. Manusia dididik, apalagi kecenderungan di negara-negara berkembang (baca : terbelakang), untuk berpikir seperti robot. Hijau itu hijau, hujan itu hujan, bencana adalah bencana : berpikir monokrom. Kita tak dididik bahwa hijau itu percampuran dari kuning dan merah, hujan itu sinergi antara panas matahari, uap air, angin dan hal-hal seputar itu, juga bencana bisa jadi itu adalah definisi dangkal kita tentang perubahan besar yang lebih baik untuk manusia. Kita tidak senang dengan adanya bencana, tapi bukan berarti kita menutup mata bahwa bukan kita yang menguasai segalanya. Derita seperti apapun, bisa jadi itu adalah definisi sempit kita tentang rangkaian anugerah yang Tuhan telah tetapkan.

"Jika suatu saat kau kembali menggembel, menjadi semacam tukang angon yang terbuang, gimana Jon?" tanya Beth suatu malam. Mereka ngopi di teras rumahnya.

"Dulu kita hanyalah tanah, atau bahkan lebih hina, setetes sperma. Apa masalahnya, toh kita akan pulang, kembali ke awal," lenguh Jon terdengar putus asa.

No comments:

Post a Comment