Hidupku dan dunia - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, February 14, 2020

Hidupku dan dunia

Cinta, cuaca disini mulai hangat. Februari sudah sampai di pertengahan. Cuaca hangat membuat nyamuk-nyamuk kamar berkeliaran. Dan sebentar lagi, mereka bersiap menetaskan telur-telurnya. Kau masih ingat, dulu kita pernah belajar, tentang mengapa hewan-hewan cepat tumbuh besar. Kambing, sapi, kerbau, mereka dapat langsung berdiri bahkan ketika baru keluar dari rahim induknya. Sedangkan kita, manusia, tak bisa. Bayi manusia menghabiskan begitu banyak energi untuk pertumbuhan otaknya, dan sisanya, untuk pertumbuhan badannya. Kau tahu apa pelajarannya? Bahwa otak, pikiran, jadikanlah prioritas dalam pertumbuhan kita. Sedangkan dalam kehidupan sosial, kau tahu pelajarannya? Mereka yang cepat bertumbuh besar, kaya, tersedia segala fasilitas hidupnya, otak dan pikiran mereka tak tumbuh secepat harta mereka. Bukan bararti kita tak boleh seperti mereka, cinta. Kita belajar bersama, bahwa orang-orang beriman itu lebih diutamakan Tuhan daripada mereka yang ragu-ragu atau bahkan pura-pura. Afanaj'alul muslimina kal mujrimin. Yang selalu kurang dari diri kita adalah kualitas batin. Kita benci, karena kurang sayang, cinta. Kita mudah marah, karena kurang peduli. Kita sekolah, karena kurang pemahaman. Maka Tuhan bilang, jangan kamu rusak keseimbangan yang telah Tuhan ciptakan. Semua hal cukup, pas, seimbang, tapi oleh manusia menjadi kurang, kekurangan, timpang. Dunia ini, memang selalu membuat kewaspadaan kita runtuh berjatuhan.

Hadiah

Aku beritakan tiga hadiah yang Tuhan berikan padaku. Mungkin kau belum mampu memahaminya, its oke. Pelan-pelan, kita akan belajar. Hadiah ini tak bisa dibeli, bahkan dengan dunia dan seisinya jika memang ada manusia yang memilikinya. Hadiah ini, tentu ini anugerah dan rahmat Allah, yang aku anggap terlalu besar untukku yang rendah ini. Sebelum Dia memberi, aku berkata pada diriku sendiri : Cintai, dan dekatilah orang-orang tertindas. Karena dari mereka, kita dapat belajar kebijaksanaan yang sangat mungkin kita tak akan mampu membelinya sekalipun dengan semua uang yang kita punya. Hadiah itu...

Satu : Setetes 'sulthon' (kekuasaan Tuhan) akan membuatmu menjadi Sulaiman.

Dua : Dia memperlihatkan bagaimana (arah/alur) manusia dan jin yang membangkangi, 'membokongi', mengganggu, menghalang-halangi seseorang pada Tuhan. Berpikir/penglihatan rangkaian yang utuh : depan belakang, atas bawah, luar dalam, jauh dekat.

Tiga : Allah, rasulullah, para malaikat dan hamba-hamba-Nya yang terkasihi selalu di dekatmu, melihatmu, memahamimu. Kita, tak akan pernah kesepian.

Tapi, cinta. Kau harus tahu, seseorang yang kesepian mungkin bukan seorang teman yang ia butuhkan. Melainkan ia sangat butuh cinta yang konstan. Dan itu hanya dimiliki oleh Tuhan. Kau harus tahu, segala sesuatu yang berharga (keilahian), yang bernilai tinggi, yang mulia, itu konstan dan tak bisa berubah. Jika cintamu berubah, maka itu tak begitu berharga. Begitu juga dengan imanmu, ketenanganmu, kebahagiaanmu, dst.

Raksasa yang terkurung

Bagaimana menurutmu jika ada seekor raksasa yang berwajah bodoh? Itulah aku. Bagaimana mungkin raksasa bertubuh kerdil? Kelak, kita ajarkan pada anak cucu kita, bahwa dalam tiap kekuatan yang besar, ada tanggung jawab besar yang harus dipikulnya. Tidak ada manusia di muka bumi ini yang dibebankan tanggungjawab besar, lalu ia tak lari, tak 'gembelengan' seperti si gundhul pacul (syair jaman baheula), kecuali ada kekuatan yang sangat besar yang disembunyikannya. Mungkin kau akan berkata, bahwa ketawadhuan yang disengaja adalah kesombongan. Tapi, kau ingat pembelajaran primitif kita dulu saat masih kuliah? Diskusi-diskusi filsafat-tasawuf yang menggetarkan langit? How if - bagaimana jika, ia memang sengaja tawadhu agar dianggap orang lain sombong sedangkan di hatinya tetaplah lillah : berdzikir tiada henti? Urusan hati itu bukan wilayah kita, cinta. Itu terlalu rumit. Jangan kau simpan urusan serumit cinta dalam hatimu. Kau harus ungkapkan, jika tak mau sakit.

Inilah hidup

Ten years ago, when before the war begin, idza qoblal awalul qital, guruku memberi nasihat, "Berhentilah berharap bahkan pada Tuhan, dan sayangilah manusia, juga semesta. Bukan karena hati kita tak dapat kecewa, melainkan kita sungguh ingin tunjukan pada Allah dan Rasulullah, bahwa permaafan kita pada manusia tak akan pernah habis demi mereka. Inilah kesaktian yang ingin aku wariskan kepadamu, Fa,". Beratnya hidup disebabkan dua hal : kau tak bergerak bersama aliran semesta, atau kau sedang menanjak. Kerumitan memasuki jiwamu, ketika disana Tuhan tak lagi menjadi cintamu yang pertama. Ujian hidup datang karena dua hal, jika bukan untuk membersihkan dosa-dosamu di masa lalu, maka (sekaligus) itu akan menaikan derajatmu lebih tinggi. Pahamilah, bahwa hidup ini berharga, ini anugerah, tapi dunialah ujiannya. Kita bertahan hidup, bukan memperjuangkan dunia. Kita mencari dunia untuk hidup, bukan sebaliknya. Di usiamu yang bertambah ini, mudah-mudahan Tuhan mengangkat derajatmu, atas kesabaran besar engkau menemaniku selama ini. Karena, selain tentang ketuhanan, kepercayaan yang tanpa pemahaman (ukuran) adalah dusta. Ukuran itu penting, agar kita tak merendahkan, juga tak berlebihan mengganggap tinggi keilmuan seseorang. Melainkan kita mampu memperlakukan dia sebagaimana mestinya (sesuai ukurannya). Kita tak pernah memperbincangkan kebenaran, yang kita pelajari selalu lebih dulu tentang keadilan. Kecup sayang untukmu dan anak kita.

Selamat milad, untuk ibu dari anakku. Maaf, aku belum bisa datang.

No comments:

Post a Comment